Senin, 08 Juni 2015

Belajarlah saling mengerti dalam keluarga

Assalamualaikum Wr. Wb.

Seperti yang sudah disebutkan di judul, maka sudah tidak perlu lagi saya jelaskan maksud dari postingan ini. Langsung saja yaa...

Apa sih keluarga itu?
Pada dasarnya keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Dan kepala keluarga nya adalah ayah.
Tentunya peran keluarga bukan sekedar sebagai orang yang memiliki ikatan/hubungan darah saja. Tapi keluarga lebih dari itu, yaitu sebagai tempat untuk saling menyayangi, mengasihi, dan saling berbagi. Keluarga bisa menjadi obat, bahkan bisa pula menjadi racun.

Obat, yup...
Keluarga bisa menjadi obat dikala kita sedih, kita galau, bahkan disaat seluruh dunia menolak mu, keluarga bisa menjadi satu-satunya obat yang memberikan penawar dari segala kesedihan, kegalauan, dan kekecewaan mu atas perlakuan seluruh dunia yang menolakmu.
Bayangkan jika kalian sedang sedih lalu tidak ada yang bisa untuk berbagi kesedihan kalian, hanya keluarga yang bisa menampung semua itu. Bayangkan jika kalian sedang galau, contohnya saja sedang putus dengan pacar, coba renungkan, sebaik-baik nya pacar kalian, pasti nanti akan pergi meninggalkan kalian juga. Bulshit jika pacar kalian menerima segala kekurangan dan kelebihan kalian. Kembali lagi ke keluarga, hanya keluarga yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan kalian. Apalagi seorang ibu, ibu yang melahirkan dan mendidik kita. Bertaruh nyawa demi nyawa kita. Mati-matian mendidik kita. Dari kita hanya bisa menangis dan menangis, perlahan bisa berbicara, merangkak, berjalan, berfikir jernih. Tidak kah sosok seorang ibu sudah lebih dari cukup? Untuk apa mencari pacar :). Dan bayangkan ketika seluruh dunia menolak mu. Tidak ada satu pun yang mau menerima kehadiranmu. Tidak ada satu pun yang mau menemani kehidupan mu. Tapi keluarga mau menerima kehadiran mu. Keluarga mau menemani kehidupan mu. Bahkan seorang sepasang suami istri yang baru menikah, sangat menginginkan kehadiran seorang anak, sangat mengingikan sosok anak untuk menemani kehidupan mereka. Bayangkan :)

 Racun? Apakah mungkin sosok keluarga yang jelas-jelas berperan sangat penting untuk kehidupan kita malah menjadi racun untuk kita? Mungkin saja :)
Apakah kalian pernah mendengar istilah "anak broken home" ?
Anak itu ibarat kertas putih. jika mereka dilukiskan gambar-gambar yang indah, maka mereka pun akan menjadi sangat indah. Kehidupan mereka akan penuh dengan warna-warna kebahagiaan. Tapi bila kertas putih itu dengan mudah nya dengan seenaknya di nodai dengan gambar-gambar yang tidak baik, bukan tidak mungkin mereka akan menjadi orang yang tidak baik. Intinya, menjadi racun atau tidak, itu sesuai dengan cara mendidik nya. Kembali ke istilah "anak broken home", pada umumnya istilah tersebut terlontar kan untuk anak yang memiliki orang tua yang hubungan nya tidak akur, bahkan sudah berpisah. Saya sempat bingung, untuk apa dua orang menikah, menjalin hubungan, jika akhirnya mereka memilih untuk bercerai, dan memutuskan hubungan? Apalagi ketika semua itu terjadi ketika sudah memilik anak. Apakah tidak berfikir panjang apa dampak untuk si anak itu? Dari yang sudah-sudah, kebanyakan anak broken home pada akhirnya akan berutal, mereka akan selalu menunjukkan kekecewaan mereka atas orang tua mereka dengan selalu merugikan sekitarnya. Contoh nya, menjadi pemabuk, pecandu, dll. Tapi tidak sedikit pula anak broken home itu malah menjadi orang yang sukses. Mereka belajar dari kisah mereka, mereka belajar bahwa hidup tak selama nya indah. Indah atau tidak, tergantung bagaimana cara kita menyikapi nya bukan? :). Dan pada akhirnya mereka berusaha untuk mengesampingkan kisah buruk mereka sebagai anak broken home dengan mencetak kesuksesan :) subhanallah...

Istilah broken home itu pada dasar nya karena terjadi miss communication antar keluarga. Jadi sebagai pelajaran, jika ada sesuatu, tolong dibicarakan baik - baik dengan keluarga kalian. Jangan sampai semua itu menjadi sesuatu yang tidak baik ujung nya. Seperti perceraian contohnya. cobalah untuk saling mengerti satu sama lain. Kalian itu KELUARGA, jangan sampai fungsi keluarga yang seharusnya menjadi obat, malah menjadi racun.

Untung nya saya mengenyam pendidikan di sekolah islam, perlahan saya mengerti, hidup itu bukan tentang siapa dengan siapa, apa dan bagaimana, tapi tentang cara kita menyikapinya. Jika kita menyikapi bahwa hidup itu kelam, rusak gak karuan, aneh, dan sebagainya, maka jangan harap pandangan hidup kalian akan menjadi baik. Tapi jika kalian menyikapi bahwa hidup yang kalian jalani itu baik, bahagia, enjoy, senang, tak peduli seberapa banyak masalah yang datang, hidup kalian pasti akan selalu tenang dan nyaman. Karena pada dasarnya, Allah tidak akan memberi cobaan pada hamba nya di luar batas kemampuan hambanya :)

Sekali lagi, jangan menghakimi hidup kalian sendiri. Khususnya tentang keluarga. Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut :)

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar